Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..
Di sini aku ingin sedikit berbagi tentang pengalaman hidupku dan tentang
hijrahku.
Awal 2017 adalah saat dimana tubuh ku hanya bisa terbaring dengan lemah.
Ada beberapa benda kecil nan mungil yang harus ku telan setiap harinya, menahan
sakitnya tusukan jarum suntik, selang oksigen yang terus menempel di hidung
yang hembusan nafasnya semakin melemah, dan tubuh yang semakin kurus.
Ya, saat itu aku sedang sakit, ada penumpukan cairan diparu-paru ku
yang katanya penyebabnya adalah bakteri. Apa yang kalian rasakan ketika
mendapat ujian seperti itu.? Dan bagaimana jika diagnosa penyakit itu kalian
dapatkan ketika hari ulang tahun.? Itulah yang aku alami dulu. Rasanya sangat
sedih mendapat kado ulang tahun dari Allah sebuah penyakit yang sangat tak ku duga.
Setiap malam aku selalu menggigil kedinginan dan rasanya ada sesuatu
yang tertarik dari ujung kaki ke ujung kepala, aku sempat bertanya “apakah itu
malaikat maut yang melakukannya.? Apakah ini saatnya giliranku.?”
Aku putus asa dan tidak yakin lagi bahwa hidupku akan berlangsung lama.
Namun tiba-tiba di tengah keputus asaanku aku teringat akan dosa-dosa yang
telah kulakukan dulu sebelum sakit. Aku tersadar bahwa ternyata selama ini aku
sombong, aku sombong sama Tuhanku. Jujur aku sering meninggalkan sholat, tidak
menaati perintahnya, melakukan sesuatu yang jelas-jelas Allah larang, dan aku
tidak perduli bagaimana dangkalnya pemahaman agamaku. Aku sombong, padahal Allah
sudah memberiku begitu banyak kenikmatan di dunia ini tapi aku sama sekali
tidak bersyukur kepada –Nya. Seketika aku termenung, merenungi betapa banyak dosaku
dan aku sangat takut jika nanti Allah meminta pertanggung jawaban atas semua
yang telah ku lakukan. Saat itu aku berdoa dan meminta kesempatan kepada Allah untuk
memperbaiki diri.
Dan pada akhirnya Ia membebaskan ku dari penyakit itu setelah beberapa
bulan aku berjuang. Aku terharu karena Allah masih mau memberi kesempatan kepada
si pendosa ini.
Sungguh, Allah Maha Baik.
Sungguh, Allah Maha Baik.
Inilah yang menjadi penyebab dan penguat hijrahku. Sebelumnya aku
memang sudah berhijrah, namun sepertinya hijrahku bukan karena Allah dan Allah
menegurku dengan cara –Nya yang sangat luar biasa. Semenjak saat itu aku selalu berusaha memperbaiki diri, menaati
perintah –Nya, berusaha mencari ilmu agama dan berusaha untuk lebih dekat
dengan Allah.
Ada hal yang membuatku sedih di awal hijrah, yaitu pemahaman orang tua ku yang kurang sering kali menyuruhku untuk tidak perlu menggunakan hijab didalam rumah meskipun ada tamu, aku berusaha menolak dengan baik dan mencoba memberi pemahaman kepada mereka secara perlahan namun tidak secara langsung yaitu dengan ku kirimkan video ceramah tentang hijab ke orang tua ku melalui whatsapp agar mereka dapat mengerti bahwa aku melakukan ini semata-mata untuk mereka juga, aku tak ingin menarik mereka masuk ke dalam neraka.
Hijrahku tak selalu mulus, imanku sering kali naik turun dan terkadang rasa malas menyelimuti diri ku. Namun setiap aku merasakan imam ku melemah, aku selalu berusaha mengingat saat dimana aku merasa kematian berada di depan mataku, ku pikirkan bagaimana jika saat itu malaikat maut benar-benar mencabut nyawaku atau apa yang sudah ku persiapkan jika kematian ku alami saat ini. Ya, kematianlah yang menjadi sebaik-baiknya pengingat untukku.
Hijrahku tak selalu mulus, imanku sering kali naik turun dan terkadang rasa malas menyelimuti diri ku. Namun setiap aku merasakan imam ku melemah, aku selalu berusaha mengingat saat dimana aku merasa kematian berada di depan mataku, ku pikirkan bagaimana jika saat itu malaikat maut benar-benar mencabut nyawaku atau apa yang sudah ku persiapkan jika kematian ku alami saat ini. Ya, kematianlah yang menjadi sebaik-baiknya pengingat untukku.
Allah, selalu punya banyak cara untuk memberikan hidayah dan jalan yang
benar kepada hamba –nya.
Dan ternyata inilah cara Allah untuk ku..
Inilah kado terindah dari Allah.
#sabtulis
Komentar
Posting Komentar